Latest News
Sabtu, 24 Desember 2016

Bertransaksi dengan Layanan Keuangan Digital

Oleh Noviyanti Wahyuni Atmagara
JAUHNYA jarak tempat tinggal dengan kantor cabang dan ATM bank, kini bukan lagi menjadi hambatan bagi kita untuk bisa melakukan transaksi perbankan. Selama di tempat tinggal anda memiliki sinyal telekomunikasi handphone atau jaringan internet, semua orang kini dimungkinkan untuk bertransaksi melalui bank. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan Layanan Keuangan Digital (LKD).
LKD adalah kegiatan layanan jasa sistem pembayaran atau keuangan terbatas yang dilakukan tidak melalui kantor fisik, namun dengan sarana teknologi seperti telepon genggam dan website yang dilakukan melalui agen. Agen tersebut dapat berupa individu masyarakat umum atau badan hukum yang telah bekerja sama sebagai mitra bank tertentu untuk memperoleh izin resmi atau lisensi untuk membuka cabang agen LKD. Target utamanya untuk menjangkau masyarakat yang belum banyak terlayani oleh bank.
Melalui agen LKD tersebut, masyarakat yang merupakan konsumen dari agen LKD dapat melakukan transaksi pembayaran rekening listrik, PDAM, isi pulsa, transfer ke bank, tarik tunai, deposit, dan lain-lain. Semua itu dilakukan tanpa harus ke bank, cukup mendatangi agen LKD terdekat. Agar bisa menikmati berbagai kemudahan tersebut, masyarakat harus mendaftar terlebih dulu via agen LKD di wilayah masing-masing. Setelah itu mereka akan memperoleh yang namanya uang elektronik.

Cukup gampang
Bagaimana cara menjadi agen LKD? Bagi individu atau badan yang ingin menjadi agen LKD caranya cukup gampang yaitu dengan mendatangi bank yang memiliki layanan penyelenggara LKD dan mendaftar sebagai agen LKD di bank tersebut. Tentunya bank memiliki kriteria persyaratan yang ditetapkan untuk bisa menjadi agen LKD mereka.
Secara umum syaratnya dapat berupa: Pertama, memiliki reputasi dan integritas yang baik di area operasional; Kedua, wajib memiliki usaha yang cukup mapan dengan lokasi tetap; Ketiga, lulus dari uji tuntas yang diberikan bank; Keempat, mampu menyetor deposit sesuai dengan nominal yang ditetapkan oleh bank, dan; Kelima, melek teknologi (memiliki telepon seluler atau website).
Masyarakat yang mampu memenuhi persyaratan dari bank tersebut di atas yang dapat dipercaya menjadi agen LKD. Dengan kata lain, agen LKD tersebut akan menjadi semacam “ATM berjalan” dan “kasir bank” bagi masyarakat sekitar yang sangat membutuhkan fasilitas transaksi uang yang aman dan instant.
Berdasarkan data 2016 ini, jumlah bank penyelenggara LKD tercatat tiga bank yakni BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI, dengan jumlah agen LKD sebanyak 44.050 agen yang tersebar di pelosok-pelosok daerah. Di tahun yang sama, hingga Juli 2016, total agen LKD mencapai 103.673 agen yang tersebar di seluruh pelosok daerah di Indonesia dan di 485 kabupaten/kota. Sementara total rekening uang elektronik di agen LKD sudah mencapai 1.230.340 rekening.
Dilihat dari jenisnya, transaksi terbesar adalah pengisian ulang uang elektronik (top up) sebanyak 80,3% dengan rata-rata transaksi sebesar Rp 24.000. Jenis transaksi selanjutnya adalah pembukaan rekening baru sebanyak 6,4% dengan rata-rata transaksi sebesar Rp 118.000 dan penarikan tunai sebanyak 6,2% dengan rata-rata transaksi sebanyak Rp 496.000.
Jumlah agen LKD tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan makin dikenalnya program LKD di masyarakat. Adanya program agen LKD merupakan suatu peluang bisnis tersendiri bagi pelaku usaha di desa. Dengan menjadi agen LKD, pelaku usaha dapat memperoleh keuntungan dari setiap transaksi yang dilakukan di toko agen LKD-nya.
Sebagai contoh, seorang agen LKD bank dapat memperoleh imbalan sebesar Rp 5.000 dari setiap transaksi transfer, pembayaran, dan tarik tunai dari nasabah. Di sisi lain, masyarakat akan cenderung memilih bertransaksi melalui agen LKD ketimbang harus pergi jauh dan mengantre ke bank.

Kajian awal
Sebagai upaya untuk memastikan agar konsep LKD dapat diterapkan dengan baik di Indonesia, Bank Indonesia (BI) telah melakukan kajian awal dan uji coba branchless banking yang diluncurkan pada Mei 2013 lalu. Uji coba dimaksud dilakukan oleh lima bank dan dua telco di lima provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Selatan). Tujuan dari uji coba ini untuk mencari apakah terdapat buying need dari masyarakat dan provider, bentuk model bisnis, dan pengaturan yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Hasil uji coba tersebut menunjukan apresiasi yang cukup baik dari masyarakat dan pelaku kegiatan uji coba. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah transaksi, yaitu agen dan jumlah rekening nasabah. Animo masyarakat untuk menabung cukup besar tercermin dari jenis transaksi yang dilakukan didominasi oleh setoran tunai diikuti dengan transfer dana.
Sebagai regulator otoritas sistem pembayaran, dan untuk menjamin aspek-aspek manajemen risiko serta perlindungan konsumen diterapkan bagi bank penyelenggara, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan BI No.18/17/PBI/2016 tanggal 29 Agustus 2016 perihal Perubahan Kedua atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money).
Dalam peraturan tersebut BI mengatur syarat-syarat bank yang dapat menyelenggarakan program LKD dan merekrut agen dari masyarakat. Syarat minimal masyarakat yang dapat mendaftar sebagi agen LKD pun turut diatur. BI ingin memastikan bahwa implementasi LKD di masyarakat dapat terselenggara dengan baik, aman, lancar, dan efektif. Dengan demikian, impian untuk mewujudkan keuangan inklusif, di mana setiap masyarakat dapat memperoleh layanan perbankan dengan mudah akan terwujud. Nah!
* Noviyanti Wahyuni Atmagara, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan anggota Generasi Bari Indonesia (GenBI), Banda Aceh. Email: noviatmagara@gmail.com


  • Google+ Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Bertransaksi dengan Layanan Keuangan Digital Rating: 5 Reviewed By: Unknown