• Membudayakan Transaksi Nontunai di Masyarakat




    Oleh Amalia Wulandari

    PERNAHKAH Anda berbelanja di pasar atau di toko, namun si penjual mengatakan bahwa dia tidak memiliki uang kembalian? Atau, pernahkah Anda berbelanja, lalu si penjual memberikan kembalian dalam bentuk uang recehan dalam jumlah yang banyak? Saya meyakini satu dari tiga orang yang berbelanja di pasar atau toko pernah mengalami hal ini ketika berbelanja. Hal demikian bisa merepotkan bagi kita apabila stok uang tunai yang ada di dompet tidak terlalu banyak dan terlebih lagi pecahannya tidak bervariasi.
    Untuk mengantisipasi hal tersebut, penggunaan instrumen pembayaran non tunai seperti E-Money, Kartu Debet atau Kartu Kredit mungkin bisa menjadi pilihan. Pembayaran dengan instrumen nontunai sudah bukan hal yang baru di Indonesia. Namun, sampai saat ini masyarakat masih terbiasa dengan pembayaran tunai. Jika kita lihat lebih lanjut, tak banyak yang bisa dilakukan dengan pembayaran tunai kecuali harus membawa dan menyiapkan fisik uang di dalam dompet sesuai kebutuhan. Uang pun sering kali lusuh karena terus berpindah tangan, di mana bukan tidak mungkin misalnya kuman menempel dan menyebar ke tangan-tangan masyarakat.
    Satu penyebab lusuhnya uang yang beredar di tengah masyarakat yakni karena masyakat belum terbiasa menyimpan uang dengan baik dan benar. Uang yang dimiliki sering kali dilipat, basah, disteples, diremuk, dan lain-lain. Akibatnya, untuk menjamin tingkat uang layak edar di masyarakat, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas sistem pembayaran terus melakukan pencetakan uang baru dan memusnahkan uang lusuh yang ada di masyarakat.
    Sebagai bentuk upaya agar masyarakat mulai terbiasa menggunakan pembayaran nontunai, BI telah menggaungkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sejak 2014. Tujuannya tidak lain agar masyarakat lebih mudah bertransaksi, tidak perlu membawa banyak uang tunai karena kerap memakan banyak tempat, lebih praktis, dan higienis. Namun, sudah hampir dua tahun GNNT digaungkan, masih terdapat sebagian masyarakat yang belum mengenal betul, apa itu instrumen pembayaran nontunai baik ragam dan jenisnya.

    Jenis nontunai
    Banyak sekali jenis instrumen pembayaran nontunai yang sudah lazim digunakan dalam masyarakat kita, sebagai contoh cek atau bilyet giro merupakan salah satunya. Namun, yang akan dibahas di sini, yaitu Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan uang elektronik. Saat ini, ada tiga jenis APMK yang sudah dikenal di masyarakat, yaitu kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Kredit.
    Sebagian besar masyarakat Indonesia tentunya telah banyak mengenal kartu ATM/Debet. Selama 2010, dengan jumlah kartu yang beredar sebanyak 51,6 juta kartu, volume penggunaan Kartu ATM/Debet yang mencapai 1,81 miliar transaksi atau 4,95 juta transaksi per hari, menjadi yang paling tinggi diantara alat pembayaran lainnya. Sedangkan Kartu Kredit merupakan alat pembayaran yang memiliki prinsip buy now pay later, di mana pada saat transaksi kewajiban pemegang kartu ditalangi terlebih dulu oleh penerbit Kartu Kredit. Pemegang kartu dapat melunasi pembayaran berdasarkan waktu yang disepakati antara pemegang kartu dan penerbit.
    Selain itu, dewasa ini inovasi pada instrumen pembayaran elektronik dengan menggunakan kartu telah berkembang menjadi bentuk yang lebih praktis. Saat ini di Indonesia sedang berkembang suatu instrumen pembayaran yang dikenal dengan uang elektronik. Bank Indonesia mendefinisikan uang elektronik melalui 4 karakteristik, yaitu; disetor di awal, disimpan dalam media tertentu, fungsi utama sebagai alat pembayaran, dan sifatnya bukan simpanan (tidak dijamin dan tidak memperoleh bunga.
    Pemegang uang elektronik harus menyetorkan sejumlah dananya kepada penerbit yang selanjutnya dananya tersebut akan disimpan dalam media elektronik (server atau chip). Penyetoran (isi) dapat dilakukan melalui ATM, pesan pendek (SMS), internet maupun melalui HP Smartphone. Setelah terisi, uang elektronik dapat digunakan sebagai alat pembayaran untuk bertransaksi pada pedagang atau merchant.
    Beberapa kemudahan atau keuntungan penggunaan instrumen nontunai antara lain: Pertama, praktis. Uang dalam jumlah beberapa lembar dapat disimpan dalam satu kartu, sehingga tidak merepotkan. Pembayaran dalam pecahan berapapun dapat dilakukan secara cepat, instant dan praktis tanpa perlu ada uang kembalian dari si penjual;
    Kedua, higienis. Mengapa higienis? Uang tunai kepemilikannya berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, sehingga dimungkinkan kuman juga akan ikut terbawa saat embayaran. Sedangkan uang nontunai tidak perlu demikian, cukup dilakukan dengan menggesek atau menempelkan kartu pada mesin EDC (Electronic Data Capture), maka pembayaran telah selesai dilakukan;
    Ketiga, aman dalam transaksi. Pembayaran dalam jumlah besar dengan uang tunai sangat rentan sekali dengan adanya salah hitung per lembar uang. Apabila dengan nontunai, kita cukup memastikan besaran angka yang di-input di mesin EDC, maka uang yang dibayarkan tidak akan lebih ataupun berkurang, akurat 100%;
    Dan, keempat, hemat. Saat ini banyak sekali pedagang toko, restaurant, dan merchant lainnya yang bekerja sama dengan bank yang memberikan diskon khusus bagi pengguna uang elektronik. Sehingga hal tersebut tentunya memberikan keuntungan bagi si pemilik kartu.

    Tantangan ke depan
    Berdasarkan data yang dimiliki Bank Indonesia, terdapat trend peningkatan transaksi nontunai di masyarakat Indonesia. Volume transaksi nontunai meningkat dari Rp 2.346 juta transaksi menjadi 2.682 juta transaksi sampai dengan Juni 2016. Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat mulai membudayakan dan percaya dengan instrumen pembayaran nontunai.
    Namun, pengguna instrumen nontunai masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena adanya layanan publik yang mewajibkan penggunanya melakukan pembayaran dengan menggunakan uang elektronik. Misalnya untuk pembayaran ongkos transportasi seperti TransJakarta, dan Kereta Commuter Line.
    Di Aceh sendiri penggunaan uang elektronik mulai meningkat seiring dengan adanya bus Trans Kutaraja. Penggunaan uang elektronik untuk berbelanja masih dapat dioptimalkan. Satu kendala yang sering dihadapi masyarakat yaitu terbatasnya mesin EDC di toko-toko atau merchant yang dapat memfasilitasi pembayaran uang elektronik.
    Selain itu, tiap EDC bank hanya bisa memfasilitasi uang elektronik terbitan bank itu saja. Sehingga masyarakat sering kali memiliki lebih dari satu uang elektronik di dompetnya. Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia tengah menjajaki cara bagaimana ke depan satu kartu uang elektronik dapat diterima di semua EDC perbankan.
    Guna menjamin masyarakat aman dalam penggunaan APMK dan uang elektronik, Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan bagi Bank yang mengeluarkan APMK dan uang elektronik. Peraturan ini bersifat mengikat bagi seluruh bank yang mengeluarkan produk tersebut.
    Dengan adanya aturan tersebut, prinsip manajemen risiko, aturan main, dan perlindungan konsumen telah diatur untuk menjamin hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tentunya, Bank Indonesia sebagai regulator sistem pembayaran ingin menjamin bahwa masyarakat juga dapat bertransaksi secara aman dan nyaman dengan instrumen nontunai. Nah!

    * Amalia Wulandari, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan Sebagai Seketaris Generasi Baru Indonesia (GenBI) Provinsi Aceh. Email: amaliawulandari444@yaho




  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar