Latest News
Selasa, 10 Januari 2017

Akselerasi Perekonomian Aceh Melalui Pengembangan Sektor Pariwisata Halal


Oleh Shella Yuni Sara
Anggota GenBI Aceh Tahun 2016

            Pergerakan wisatawan muslim di Indonesia sangatlah tinggi, untuk Wisnus di perjalanan tahun 2015 terjadi 255 juta perjalanan dan pengeluaran total Rp. 203.6 Triliun. Potensi wisata halal menjadi generator pertumbuhan pendapatan perekonomian nasional di tahun 2020, Indonesia dan aceh khususnya sangatlah besar potensinya sebagai salah satu destinasi wisata halal yang akan dikunjungi oleh wisatawan manca negara. Wisata halal ini merupakan terobosan atas segmentasi pariwisata yang prospeknya sangat menjanjikan. Indonesia adalah peringkat ke-30 di dunia dengan pemeluk agama Islam terbanyak, yaitu 87,18%. Menurut data Kemenpar pengeluaran Wisatawan Muslim Nusantara pada tahun 2011 Rp. 160.3 Triliun, tahun 2015 Rp. 179.2 Triliun. Pada tahun 2011 sampai dengan 2015 mengalami kenaikan 7% untuk rata-rata pertumbuhan capaian.
            Aceh khususnya yang terletak strategis di wilayah paling barat Republik Indonesia terpilih dipromosikan sebagai Destinasi Wisata Halal dalam rangka menarik kunjungan wisatawan manca negara, khususnya dari Malaysia dan Negara-negara Timur Tengah umumnya. Aceh memiliki keunggulan tersendiri sebagai Destinasi Wisata Halal yang Ramah Muslim, sejarah dan budaya Aceh yang memiliki latar belakang Islam sangat kuat dan pelaksanaan syariat Islam di Aceh yang menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi wisatawan muslim. Aceh juga masuk sebagai salah satu nominator  dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
            Konsep wisata halal merupakan sebuah proses pengintegrasian nilai-nilai keislaman ke dalam seluruh aspek kegiatan wisata. Nilai syariat sebagai suatu kepercayaan dan keyakinan yang di anut umat muslim menjadi acuan dasar dalam membangun kegiatan pariwisata. Konsep ini juga bertujuan untuk menarik minat wisatawan untuk berwisata secara nyaman, sambil beribadah kepada Allah SWT dan menikmati segala keindahan alam sebagai manifestasi rasa syukur atas segala ciptaan-Nya dengan menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan muslim sesuai syariah. Aceh dianugerahi dengan berbagai kekayaan alam dan pesona wisata alam, termasuk juga keberagaman seni budaya, peninggalan sejarah Islam serta jenis kuliner Aceh sebagai daya tarik wisatawan.
            Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Ahmad Farid, perekonomian Aceh hingga triwulan II 2016 meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun 2015. Stabilitas makroekonomi nasional dan Aceh juga masih relatif terjaga yang tercermin dari inflasi yang terkendali saat ini. “Ini mengindikasikan bahwa ekonomi Aceh sudah tumbuh, hanya saja permasalahannya adalah ekonomi kita masih di topang cukup besar oleh anggaran Provinsi Aceh atau APBA. Ini yang ingin kita bangkitkan pada sektor swasta karena kita tahu potensi-potensi yang ada di Aceh cukup besar,” katanya.
            Namun apabila di arahkan ke industri besar, maka akan memakan waktu lama, sementara jumlah pengangguran dan kemiskinan di Aceh cukup banyak, sedangkan potensi yang di miliki wilayah ini sangat besar. “Nah, untuk mengatasi hal tersebut dalam jangka pendek dan menengah adalah dengan mendorong sektor pariwisata, karena sektor ini akan sangat di dukung oleh Pemerintah Pusat dan anggaran dari pemerintah juga akan konsen ke pariwisata seluruh Indonesia, sehingga apabila kita tidak memanfaatkan potensi yang ada saat ini, kita akan tertinggal,” kata Ahmad Farid. (Sumber : Serambi Indonesia, 28/9).
            Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. Sejalan dengan hal tersebut dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dikelompokkan menjadi “ Dampak terhadap penerimaan devisa, pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, harga pasar, distribusi masyarakat atau keuntungan, dan pembangunan suatu daerah. Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar kelima setelah minyak, gas, batubara, dan kelapa sawit.
            Nah, disini kita melihat bahwa pengoptimalan sektor pariwisata dapat memajukan dan mensejahterakan daerah pariwisata khususnya sehingga dapat berdampak positif bagi suatu daerah. Dengan langkah dan kebijakan pemerintah yang tepat, sektor pariwisata dapat membuka banyak lapangan kerja sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran yang tentu saja berdampak baik untuk kesejahteraan masyarakat. Sektor ini memberikan kesempatan bagi para pengusaha kecil hingga pengusaha besar karena menyerap dari berbagai usaha, antara lain perhotelan untuk tempat menginap selama berwisata, jasa transportasi atau restoran, ticketing, guide, dll. Dari semua kegiatan usaha yang dapat dilakukan, daerah dan negara berhak memperoleh retribusi yang masuk kedalam APBD dan APBN.
            Hal-hal penting yang harus menjadi perhatian pemerintah untuk mengakselerasikan perekonomian Aceh melalui pengembangan sektor wisata halal adalah kesiapan daerah. Agar daerah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga ada keselarasan antara kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah dengan pihak swasta dan industri yang bergerak di bidang wisata halal.
            Perhatian khusus perlu diberikan juga terhadap Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA). Untuk itu,  Bank  Indonesia sebagai otoritas yang berwenang, akan senantiasa mengambil langkah dan kebijakan yang diperlukan, diantaranya melalui penerbitan ketentuan, pengawasan, pembinaan, serta penegakan hukum melalui kerjasama dengan pihak Kepolisisan.  Salah satu penataan dan penertiban yang penting dilakukan adalah memastikan setiap penyelenggara KUPVA, khususnya KUPVA bukan bank memiliki izin usaha. Pengawasan yang baik kepada penyelenggaraan KUPVA bukan bank, termasuk terkait perizinan guna mewujudkan agar KUPVA selalu mengikuti ketentuan yang berlaku.
            Bank indonesia juga mengadakan seminar nasional pada Kamis (29/20/2015) silam di Surabaya, dengan tujuan memberikan wawasan kepada stakeholder tentang lini usaha wisata yang termasuk dalam kategori wisata syariah dan membantu mempercepat pengembangan industri wisata syariah di Indonesia. Seminar mengenai pengembangan pariwisata syariah yang di adakan Bank indonesia merupakan bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah Indonesia (Indonesia Shari’a Economic Festival – ISEF) 2015. Penyelenggaraan ISEF merupakan bentuk peranan aktif Bank Indonesia dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
                        Shella Yuni Sara, Mahasiswa UIN Ar Raniry Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Anggota GenBI Provinsi Aceh Tahun 2016

            
  • Google+ Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. Penjualan Eceran November 2016 Meningkat
    Bapak/Ibu Pegawai Bank Indonesia yang berbahagia,


    Survei Penjualan Eceran November 2016 mengindikasikan bahwa secara tahunan pertumbuhan penjualan eceran meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) November 2016 yang tumbuh 10,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 8,1% (yoy) pada Oktober 2016. Peningkatan penjualan ritel terutama terjadi pada kelompok makanan. Secara regional, pertumbuhan tahunan penjualan eceran terbesar terdapat di kota Bandung (14,2 %, yoy).
    Pada Desember 2016, pertumbuhan penjualan eceran diperkirakan meningkat menjadi 10,5% (yoy). Peningkatan penjualan eceran terutama terjadi pada kelompok makanan, yang tumbuh dari 8,6% (yoy) pada November 2016 menjadi 10,1% (yoy) pada Desember 2016. Di sisi lain, penjualan kelompok non makanan diperkirakan tumbuh melambat dari 12,1% (yoy) pada November 2016 menjadi 11,0% (yoy) pada Desember 2016.
    Survei juga mengindikasikan bahwa tekanan kenaikan harga pada Februari 2017 diperkirakan menurun. Indikasi tersebut terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan mendatang yang turun 4,0 poin menjadi sebesar 129,6. Sementara tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Mei 2017) diperkirakan meningkat sebagaimana tercermin dari IEH 6 bulan mendatang sebesar 126,8, lebih tinggi dibandingkan 124,8 pada bulan sebelumnya.
    By. Manjuria (Manajer KOmunikasi dan Koordinasi Kebijakan) KPwBI Provinsi Aceh.

    BalasHapus

Item Reviewed: Akselerasi Perekonomian Aceh Melalui Pengembangan Sektor Pariwisata Halal Rating: 5 Reviewed By: genBI Aceh