Latest News
Kamis, 19 Januari 2017

Credit Card Dalam Mendukung Smart Money Berdasarkan Perspektif Islam


 Oleh Sa`datul Hijriah
Anggota GenBI Aceh Tahun 2016
CREDIT CARD DALAM MENDUKUNG SMART MONEY BERDASARKAN PERSPEKTIF ISLAM
Smart money adalah suatu alat transaksi pembayaran yang berbentuk non tunai. Salah satu alat pemabayaran non tunai yang sudah sangat familiar di masyarakat yaitu kartu credit (credit card). Smart money akan mendukung untuk menciptakan smart city (kota cerdas) yang dilakukan oleh bangsa yang cerdas (smart nation).
Pada abad modern ini, untuk lebih memudahkan setiap bangsa dalam menggunakan jasa biro dalam dunia perdagangan dan bisnis dibutuhkan suatu alat yang mendukung seiring dengan perkembangan teknologi (hight tech) yang semakin canggih. Begitu juga syari’at islam, ia dapat memberikan jalan keluar dari setiap perkembangan dan perubahan dari waktu-kewaktu yang muncul belakangan ini. Dalam memberikan jawaban setiap permasalahan, islam mempunyai ketentuan-ketentuan agar tidak terjadi penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal, sesuai dengan kaidah ushuliyah, yaitu:
Asal-usul dalam seluruh interaksi perdagangan (muamalah) adalah dibolehkan, hingga terdapat dalil yang mengahramkannya”.
Berdasarkan qaidah di atas, maka sepatutnya kita meneliti secara detail semua aspek perdagangan dan perbisnisan yang mulai marak di abad modern ini, supaya kita dapat menyimpulkan secara hukum Islam dan tidak membiarkan setiap bangsa tenggelam dalam kebingungan dan kesesatan.
Kartu kredit terdiri dari dua kata, yaitu kartu dan kredit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian kartu adalah kertas tebal, berbentuk persegi panjang (untuk berbagai keperluan hampir sama dengan karcis). Sedangkan arti kredit adalah pinjaman baik berbentuk barang, uang atau jasa. Dalam istilah bahasa Arab kartu kredit disebut dengan bithaqah al-i’timan.
Kredit termasuk dalam sistem pembayaran yang mudah, aman dan nyaman. Sekarang ini banyak kita jumpai dalam aktivitas dagang dan bisnis lainnya telah menggunakan sistem pembayaran dengan kartu kredit. Pembayaran dengan sistem ini dalam transaksi perdagangan atau bisnis pelanggan tidak perlu repot lagi untuk pergi ke bank, mengantri untuk mengirim uang ataupun ke ATM untuk transfer akan tetapi pelanggan dapat melakukan pembayaran secara langsung dengan kartu kredit. Ada 4 pihak yang terlibat mengenai kredit card yaitu:
1.      Pemilik kartu kredit (card holder).
2.      Merchant, yaitu pihak yang menerima pembayaran dengan kartu kredit untuk produk atau jasa dari  pemilik kartu kredit.
3.      Asosiasi kartu, yaitu jaringan seperti VISA atau Mastercard yang berperan sebagai gate way antara acquirer dengan issuer bank.
4.      Issuer bank yaitu penerbit kartu.
Pengertian Kartu Kredit Syariah di Indonesia dikenal dengan Syariah Charger Card. Syariah Charger Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang (hamil al-bithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai pada temapt-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditentukan.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas dapat diartikan kredit card adalah kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank atau lainnya kepada nasabah guna memberikan fasilitas pemenuhan keperluan nasabah baik dalam perdagangan ataupun bisnis di tempat-tempat tertentu di seluruh saentro dunia, dengan ketentuan pihak nasabah wajib membayar setoran bulanan atau tahunan.
Disini pihak nasabah akan memperoleh segala keperluan (hajat) dengan menggunakan kredit card tersebut, namun nasabah wajib membayar sejumlah iuran dalam jangka waktu bulanan atau tahunan sampai lunas dan ketentuannya sesuai dengan perjanjian. Dalam hal ini pihak yang memegang card disebut nasabah dan pihak bank disebut sebagai pihak yang meminjamkan modal baik berbentuk uang maupun jasa.
Hubungan antar bank dan pedagang adalah hubungan akad hiwalah. Cara kerjanya adalah berdasarkan pada perjanjian dalam akad. Apabila pihak nasabah membeli barang  menggunakan kredit card di toko atau pasar tertentu, maka pihak banklah yang akan menanggung seluruh hutang-hutang nasabah, sesuai dengan jumlah pembelanjaan yang didapatkan oleh nasabah. Pihak bank akan membayar jumlah utang yang telah diberikan pedagang kepada pihak nasabah. Berdasarkan ketentuan ini berarti hutang pihak nasabah telah dialihkan kepada pihak bank. Hiwalah adalah memindahkan tanggungan berupa hutang dari orang yang berutang (muhil) kepada tanggungan orang yang dipindahi hutang (muhal ‘alaih). Berarti terdapat hubunga antar kredit carrd dengan akad hiwalah, sebab permasalahan ini menurut mazhab Abu Hanifah dan sebagian ulama Syafi’iyah tidak mensyaratkan sahnya hiwalah dengan terdapatnya hutang yang dialihkan kepada yang mengalihkan. Bahkan hiwalah juga dapat dilakukan meskipun hutang tersebut belum terdapat sama sekali, akan tetapi ada kerelaan orang yang dialihkan (pihak bank) untuk membayar hutang tersebut.
Setelah sekian lama nasabah menggunakan kredit, apabila waktu pemakain sudah berakhir maka nasabah perlu untuk memperbaharui card tersebut. Dalam pembuatan card, bisa setiap tahun atau 5 tahun sekali. Biasanya pihak bank mengenakan biaya pembuatan kartu baru, dan seluruh biaya jasa lainnya yang telah diberikan oleh pihak bank kepada nasabah. Dalam tinjauan Islam pemungutan terhadap biaya tersebt dibolehkan (mubah). Hal ini berdasarkan atas hasil Muktamar Lembaga Fiqh Islam Jeddah ke tiga, yang membahas mengenai biaya birokrasi bank dan lainnya.
Di Indonesia, kartu kredit syariah pertama diterbitkan oleh Bank Danamon yang bekerjasama dengan Master Crad, dengan nama Dirham Card. Dirham card diterbitkan berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor 54/DSN-MUI/IX/20016 dan Surat BI No. 9/183/DpbS/2007 tentang Persetujuan Danamon Syariah.
Secara tidak langsung, penggunaan credit card oleh smart natioan untuk mengakses smart money dalam ranah smart city akan meningkatkan “costumer exprerience” dan loyalitas pelanggan, terutama di era digital seperti ini. Semakin banyak aktivitas-aktivitas bisnis yang berinovasi akan memberi nilai tambah (value added) bagi kemajuan industri sistem pembayaran dan perbankan. Hal  demikian juga akan mendukung pertumbuhan perekonomian dan stabilitas sistem keuangan di Indonesia. 
                                                                                                                                        
 Sa’adatul Hijriah Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry
 Anggota GenBI Aceh Tahun 2016
                                                                                                 
  • Google+ Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Credit Card Dalam Mendukung Smart Money Berdasarkan Perspektif Islam Rating: 5 Reviewed By: genBI Aceh