• Bilyet Giro Sebagai Alat Pembayaran Utang : Berutang Secara Cerdas, Mungkinkah?


    Oleh :Sani Maghfirah 
    Anggota GenBI Aceh
    Bilyet Giro Sebagai Alat Pembayaran Utang :
    Berutang Secara Cerdas, Mungkinkah?

    Utang itu seperti ular, semakin lama lilitannya semakin kuat. Harus segera dilepaskan jika tidak ingin tercekik dan mati. Begitu perumpamaannya. Parahnya setelah mati pun, si utang masih saja mencekik keluarga dan kerabat korbannya. Tidak hanya sampai disitu, utang itu juga memberatkan kedua belah pihak baik si pemberi piutang dan penerima utang.
    Contohnya, seorang pemuda yang ingin segera mengakhiri masa penganggurannya. Sehingga ia pun memutuskan untuk berdagang. Hanya saja ia terlalu miskin dan tidak memiliki modal apapun. Setelah dipikir-pikir mungkin ia bisa menjual beras dengan meminjam beras dari distributor nanti ketika berasnya telah habis terjual barulah ia akan membayar kepada si distributor. Singkat cerita, barang dagangannya laku semua. Tetapi selama penjualan ia tidak menghitung dan mengalokasikan uangnya secara baik dan cenderung menghabiskan uang yang didapat untuk keperluan sehari-hari tanpa adanya pembukuan yang jelas. Sehingga, ketika tiba waktu jatuh tempo pembayaran kepada si distributor, ia tidak mampu membayar. Ketika si distributor datang untuk menagih uang si pedagang berusaha bernegosiasi serta meminta diberikan pasokan beras lagi dan berjanji akan membayar pada waktu berikutnya. Namun, sayangnya hal tersebut kembali terulang lagi dan lagi. Sehingga si pedagang bukannya mendapat laba malah terlilit utang.
    Memang telah menjadi sifat alami manusia yang suka menunda, hal tersebut menyebabkan krisis kepercayaan diantara sesama pedagang maupun diantara pedagang dan distributor. Ada ketakutan yang dihadapi oleh para distributor pada saat mereka menyalurkan barang dagangan. Ketakutan bahwa si pedagang tidak akan membayar tepat pada waktunya. Sebab, perkataan janji-janji tidaklah memiliki kekuatan hukum.
    Tidak dinafikan dalam Islam berutang tidaklah dilarang bagi mereka yang memerlukan dan berhajat kepadanya demikian pula di dalam dunia bisnis, utang piutang merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari namun, perlu diperhatikan utang yang telah berlilit-lilit dapat menimbulkan banyak mudharat. Lilitan utang ini dapat dihindari bila kita bersikap tegas dan bertanggung jawab dalam menyikapi utang. Tapi tidak dapat dipungkiri bersikap tegas dan bertanggung jawab tidaklah mudah butuh sedikit tekanan untuk melakukannya. Jika kita mau mengulurkan sedikit waktu kita untuk menyimak lebih dalam kinerja Bank Indonesia. Sebenarnya Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai macam jenis instrument pembayaran non tunai. Salah satunya adalah Bilyet Giro (BG). BG adalah salah satu metode pencairan uang dan pembayaran yang berlaku pada rekening giro. Jika dilihat lebih dalam, BG ini dapat menjadi alternatif pedagang untuk lebih pintar dalam menjalankan transaksi bisnisnya. Utang piutang menjadi tidak terlalu berbahaya. Sebab, BG memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Sehingga menjadikan pihak yang berutang lebih bertanggjung jawab dan pihak yang mengutangi lebih merasa aman sebab adanya jaminan yang telah diberikan.
    Pembayaran menggunakan BG ini sebenarnya sangat mudah dan aman, yang perlu dilakukan hanyalah membuat tabungan giro dan membeli slot BG. Selanjutnya, pedagang dapat menyerahkan BG tersebut kepada distributor dimana distributor dapat mencairkan uangnya di Bank sesuai dengan tanggal yang tertera pada BG. Tugas si pedagang adalah menyetor uang ke bank sebelum jatuh Tempo. Hal ini tentu akan membuat pedagang lebih disiplin dalam menyetor uang. jika ia terlambat menyetor uang maka akan ada peringatan yang diterimanya. Apabila si pedagang terlambat membayar sampai 3 kali maka namanya akan masuk ke dalam daftar hitam Nasional (DHN) dan tidak dapat menggunakan BG lagi.
    Sayangnya, di Aceh khususnya Banda Aceh sendiri minat para pedagang terhadap giro masih sangat rendah. Secara statistikm presentase penarikan BG kosong masih relatif kecil di indonesia. Padahal Hanya sebagian kecil dari pedagang pro yang telah berkecimpung dengan BG. Mungkin ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para pedagang itu sendiri mengenai BG. Dimana kebanyakan masyarakat awam masih menganggap berurusan dengan bank adalah perkara yang rumit. Padahal pembayaran dengan BG ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pembayaran secara cash. Dimana pembayaran secara cash lebih berbahaya dengan ancaman terjadinya perampokan, kebakaran, terlalu ribet dan lain sebagainya. Pembayaran menggunakan BG bagi para pedagang juga dapat membentuk karakter yang lebih baik seperti menjadikan pedagang lebih bertanggung jawab dan dapat mengalokasikan keuangan secara lebih efektif dan efisien. Karena memang pada dasarnya orang akan berkerja lebih giat untuk memenuhi kewajiban yang terikat dengan hukum.
    Oleh karena itu, alangkah indahnya jika kita lebih membuka mata terhadap perkembangan positif yang dihidangkan oleh jaman dengan segala kemudahan-kemudahan teknologi terkini dan tidak malas untuk belajar dan memahami hal-hal baru disekitar kita.

    Sani Maghfirah (UIN Ar-raniry)
  • You might also like

    No comments:

    Post a Comment