Latest News
Selasa, 07 Agustus 2018

Top Up Uang Elektronik dikenanakan Biaya, Sesuaikah ? Ini Jawabannya



Top Up Uang Elektronik dikenanakan Biaya, Sesuaikah ? Ini Jawabannya


Sumber: https://ekbis.sindonews.com

Oleh:
Teuku Nori Nanda 

Polemik tentang tarif top up saldo uang elektronik baru-baru ini mendapat protes dari masyarakat, ini menandakan masyarakat sebagai pengguna uang elektronik atau e-money membutuhkan penjelasan tentang ketetapan tarif top up tersebut. Bukan persoalan masyarakat tidak menerima ketetapan tersebut melainkan masih harus di berikan pemahaman kenapa top up saldo uang elektronik tersebut dikenakan biaya.
Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga yang mengatur kebijakan sistem pembayaran di Indonesia harus menetapkan skala besarnya tarif top up saldo uang elektronik harus sama disetiap lembaga atau bank yang menerbitkan uang elektronik. Jika masih ada perbedaan tarif pengisian saldo uang elektronik anatara lemabaga atau bank yang menerbitkan uang elektronik maka bank Indonesia harus mengambil tindakan tegas agar mesyarakat tidak simpang siyur tertadap besarnya tarif top up E-money.
Masyarakat sebagai pengguna uang elektronik pasti mendukung dan menerima tentang kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam memasyarakatkan transaksi non tunai di Indonesia. Karena transaksi non tunai sangat besar mengurangi cost dari mencetak uang kertas dan biaya  yang dulunya dipakai mencetak uang kertas bisa dialihkan untuk mendukung mengakselerasi pertumbuhan perekonomian Indonesia di daerah  terpencil dan tertinggal, sehinga bisa terwujudnya kesejahteraan disetiap lapisan masyarakat di seluruh Indonesia.
Ini Alasan dikenakan tarif top up uang elektronik !
Uang elektronik yang dikeluarkan olah bank merupakan bentuk kartu dimana bank sebagai penyedia fasilitas membutuhkan cost yang sangat besar untuk masyarakat bisa menggunakan uang dalam bentuk chip atau lebih nampaknya berbentuk kartu. Investasi bank dalam pengadaan kartu uang elektronik itu harus diimpor dengan biaya hampir 2 dolar As perkartunya, dan belum alat-alat dalam mengoprasikan uang elektronik tersebut. Masyarakat sebagai pengguna uang elektronik harus melihat dari berbagai sisi agar peimplementasian Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) ini berjalan dengan lancar agar Indoneisa bisa mengikuti Negara-Negara Maju.
Penggunaan uang elektronik jika dilihat dari jumlah penggunanya mungkin masyarakat menilai ini sangat menguntungkan bagi pihak bank sebagai penyedia fasilitas transaksi non tunai, tapi jika melihat dari jumlah nilai transaksi masih belum menguntungkan bagi pihak bank dikarenakan cost yang dikeluarkan untuk penyedian fasilitas transaksi non tunai tersebut cukup besar.
Meskipun dalam kondisi realnya bank belum menguntungkan jika dilihat dari nilai transaksi keseluruhan, bank memastikan biaya top up uang elektronik berkisar antara 1.500-2.000 per top upnya. Bahkan Bank Indonesia (BI) akan menetapkan kebijakan tentang batas maksimum tarif biaya top up uang elektronik.  Tidak semua trassaksi isi ulang uang elektronik dikenakan biaya, tetapi ada batas minum top up yang tidak dikenakan biaya da nada batas maksimum top up yang dikanakan biaya. Bank Indonesia menegaskan akan mengatur tentang batas minimum yang ditidak boleh dikenakan biaya  dan batas maksimum top up yang boleh dikenakan biaya.
  • Google+ Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Top Up Uang Elektronik dikenanakan Biaya, Sesuaikah ? Ini Jawabannya Rating: 5 Reviewed By: genBI Aceh