Tampilkan postingan dengan label Jendela GenBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jendela GenBI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Bantu Korban Gempa Donggala dan Tsunami Palu Sulteng


Kirim Donasi Terbaikmu Untuk Saudara-saudara kita yang terkena musibah gempa dan Tsunami Palu melalui Rekening GenBI Peduli Melalui BNI Syariah 349733929 An. Suriri Hidayati, Konfirmasi donasi anda melalui Cp.081361113238.
Hingga hari ini jumlah korban meninggal akibat  Gempa dan Tsunami di Palu, menurut Kepala BNPB Wilem Rampangilei, sudah mencapai 420 orang. Angka korban belum termasuk Donggala yang masih belum bisa diakses di tengah komunikasi yang terputus. sumber BBC.com




Bersama  Generasi Baru Indonesia (GenBI) Aceh salurkan donasi terbaikmu. Terimakasih.

Selasa, 07 Agustus 2018

Top Up Uang Elektronik dikenanakan Biaya, Sesuaikah ? Ini Jawabannya



Top Up Uang Elektronik dikenanakan Biaya, Sesuaikah ? Ini Jawabannya


Sumber: https://ekbis.sindonews.com

Oleh:
Teuku Nori Nanda 

Polemik tentang tarif top up saldo uang elektronik baru-baru ini mendapat protes dari masyarakat, ini menandakan masyarakat sebagai pengguna uang elektronik atau e-money membutuhkan penjelasan tentang ketetapan tarif top up tersebut. Bukan persoalan masyarakat tidak menerima ketetapan tersebut melainkan masih harus di berikan pemahaman kenapa top up saldo uang elektronik tersebut dikenakan biaya.
Bank Indonesia (BI) sebagai lembaga yang mengatur kebijakan sistem pembayaran di Indonesia harus menetapkan skala besarnya tarif top up saldo uang elektronik harus sama disetiap lembaga atau bank yang menerbitkan uang elektronik. Jika masih ada perbedaan tarif pengisian saldo uang elektronik anatara lemabaga atau bank yang menerbitkan uang elektronik maka bank Indonesia harus mengambil tindakan tegas agar mesyarakat tidak simpang siyur tertadap besarnya tarif top up E-money.
Masyarakat sebagai pengguna uang elektronik pasti mendukung dan menerima tentang kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam memasyarakatkan transaksi non tunai di Indonesia. Karena transaksi non tunai sangat besar mengurangi cost dari mencetak uang kertas dan biaya  yang dulunya dipakai mencetak uang kertas bisa dialihkan untuk mendukung mengakselerasi pertumbuhan perekonomian Indonesia di daerah  terpencil dan tertinggal, sehinga bisa terwujudnya kesejahteraan disetiap lapisan masyarakat di seluruh Indonesia.
Ini Alasan dikenakan tarif top up uang elektronik !
Uang elektronik yang dikeluarkan olah bank merupakan bentuk kartu dimana bank sebagai penyedia fasilitas membutuhkan cost yang sangat besar untuk masyarakat bisa menggunakan uang dalam bentuk chip atau lebih nampaknya berbentuk kartu. Investasi bank dalam pengadaan kartu uang elektronik itu harus diimpor dengan biaya hampir 2 dolar As perkartunya, dan belum alat-alat dalam mengoprasikan uang elektronik tersebut. Masyarakat sebagai pengguna uang elektronik harus melihat dari berbagai sisi agar peimplementasian Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) ini berjalan dengan lancar agar Indoneisa bisa mengikuti Negara-Negara Maju.
Penggunaan uang elektronik jika dilihat dari jumlah penggunanya mungkin masyarakat menilai ini sangat menguntungkan bagi pihak bank sebagai penyedia fasilitas transaksi non tunai, tapi jika melihat dari jumlah nilai transaksi masih belum menguntungkan bagi pihak bank dikarenakan cost yang dikeluarkan untuk penyedian fasilitas transaksi non tunai tersebut cukup besar.
Meskipun dalam kondisi realnya bank belum menguntungkan jika dilihat dari nilai transaksi keseluruhan, bank memastikan biaya top up uang elektronik berkisar antara 1.500-2.000 per top upnya. Bahkan Bank Indonesia (BI) akan menetapkan kebijakan tentang batas maksimum tarif biaya top up uang elektronik.  Tidak semua trassaksi isi ulang uang elektronik dikenakan biaya, tetapi ada batas minum top up yang tidak dikenakan biaya da nada batas maksimum top up yang dikanakan biaya. Bank Indonesia menegaskan akan mengatur tentang batas minimum yang ditidak boleh dikenakan biaya  dan batas maksimum top up yang boleh dikenakan biaya.

Kamis, 09 November 2017

GenBI Go Green Goes To Campus


GenBI Aceh.or.id -Banda Aceh, - Mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam komunitas Genbi ( Generasi Baru Indonesia ) provinsi Aceh, jumat, 3 November 2017, menanam 200 pohon pada kegiatan gotong royong massal dalam rangka Milad Universitas Islam Negeri Ar-Raniry yang ke-54.
Gotong royong dan penanaman pohon yang dibuka langsung oleh rektor UIN Bpk Farid Wajdi ini merupakan wujud kepedulian UIN Ar-Raniry terhadap lingkungannya dengan gerakan-gerakan pembersihan kampus, penyiraman bunga,  penamaman bibit-bibit pohon baru dan lain sebagainya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh staf administrasi, para dosen, mahasiswa UIN dan juga mahasiswa komunitas GenBI
Farid Wajdi dalam kesempatannya menyampaikan apresiasinya kepada seluruh  pihak yang terlibat khususnya mahasiswa GenBI karena telah bersedia untuk melakukan penanaman pohon.
"Kegiatan penanaman pohon ini merupakan berkat kerjasama Uin ar-raniry dengan mahasiswa GenBI provinsi Aceh, saya berharap dengan adanya gerakan seperti ini kampus kita menjadi lebih bagus dan asri lagi," kata Farid.
Dalam kegiatan ini ada 3 jenis pohon yang ditanam, yaitu pohon mahoni, asam jawa dan ketapang yang ditanami di sekitaran lapangan bola kaki kampus.
Nanda selaku ketua umum GenBI Aceh berharap mahasiswa GenBI terus bisa melakukan hal-hal positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. "Semoga kegiatan ini bisa dirasakan manfaatnya oleh generasi kita yang akan datang," katanya. [] 

Sabtu, 19 Agustus 2017

Rupiah Simbol Kedaulatan Bangsa


Sabtu, 19 Agustus 2017 11:31

Oleh Teuku Munandar

Setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di wilayah NKRI, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah. Bagi yang melanggar Pasal 23 tersebut dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta. (Pasal 23 dan 33 ayat (2) UU No.7 Tahun 2011 tentang Mata Uang).
BERDASARKAN ketentuan dalam UU Mata Uang tersebut, maka tidak ada alasan bagi masyarakat Indonesia yang melakukan transaksi di NKRI untuk menolak penggunaan uang Rupiah dalam pecahan berapa pun, baik uang kertas maupun logam, sepanjang uang Rupiah tersebut masih dinyatakan berlaku oleh Bank Indonesia (BI) dan tidak diragukan keasliannya.
Sesuai dengan UU Mata Uang, terdapat 6 tahapan pengelolaan Rupiah, yaitu perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, serta pemusnahan. Dari keenam tahapan tersebut, terdapat tiga tahapan yaitu pengeluaran, pengedaran, dan/atau pencabutan dan penarikan Rupiah yang kewenangannya hanya dimiliki oleh BI. Sementara untuk tiga tahapan lainnya yakni perencanaan, pencetakan, dan pemusnahan uang Rupiah, dilakukan oleh BI dengan berkoordinasi bersama pemerintah, yang selama ini diwakili oleh Kementerian Keuangan RI.

Memenuhi Kebutuhan
Dalam menjalankan tugasnya mengelola uang Rupiah, BI memiliki misi untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. Oleh karenanya untuk menerbitkan uang Rupiah, berbagai faktor menjadi pertimbangan BI, agar uang Rupiah yang diterbitkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, dalam hal nominal, jenis pecahan, kualitas keamanan, sampai kepada kesesuaian desain uang. Seperti halnya pada saat merencanakan jumlah uang dan pecahan yang akan di cetak setiap tahunnya, BI akan memperhatikan berbagai asumsi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta proyeksi perputaran uang di Indonesia yang dilihat dari jumlah uang masuk (inflow) ke BI dan keluar (outflow) dari BI. Proses perencanaan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Keuangan.
Melalui proses perencanaan yang baik, diharapkan uang Rupiah yang dicetak dan diedarkan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik dalam hal jumlah nominal serta pecahannya. Dengan kata lain, BI tidak akan mencetak dan mengedarkan pecahan uang Rupiah yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat, atau berdasarkan berbagai pertimbangan dan kondisi diputuskan untuk dicabut/ditarik dari peredaran. Sampai dengan saat ini, uang Rupiah yang dinyatakan masih berlaku dan belum ditarik/dicabut oleh BI terdiri dari uang Rupiah kertas pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu, dan Rp 1.000. Sementara untuk uang Rupiah logam terdiri dari pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, Rp 100, Rp 50, dan Rp 1.
Setiap pecahan memiliki tahun penerbitan atau yang dikenal dengan Tahun Emisi (TE) yang berbeda, bahkan satu pecahan uang Rupiah bisa memiliki TE yang berbeda-beda. Sebagai contoh untuk pecahan Rp 100 ribu yang masih berlaku saat ini, memiliki beberapa tahun emisi, yaitu TE 2004, 2014, dan terakhir 2016. Perbedaan TE tersebut disebabkan terjadinya perubahan desain uang, baik perubahan besar (major) maupun kecil (minor). Untuk mengetahui lebih detil mengenai pecahan uang Rupiah serta tahun emisi kapan saja yang masih berlaku hingga saat ini, masyarakat dapat melihat di website Bank Indonesia atau menanyakan langsung di Kantor Perwakilan BI terdekat.
Penting bagi masyarakat untuk mengetahui uang Rupiah berapa saja yang masih dinyatakan berlaku oleh BI, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas perekonomian masyarakat. Selain itu pemahaman yang baik mengenai uang Rupiah juga dapat menghindarkan masyarakat dari risiko hukum yang dapat terjadi akibat menolak bertransaksi menggunakan uang Rupiah, sebagaimana yang telah diatur dalam UU Mata Uang.
Dalam beberapa tahun terakhir terdengar kabar di beberapa daerah mengenai terjadinya penolakan oleh sebagian masyarakat terhadap penggunaan uang Rupiah logam (koin) terutama pecahan kecil, dalam transaksi jual beli. Penolakan tersebut terjadi umumnya dikarenakan uang koin sering dianggap sebagai uang receh yang tidaklah penting dan bernilai. Bahkan ada juga yang menolak dengan alasan uang koin pecahan kecil seperti Rp 50 dan Rp 100 sudah tidak berlaku lagi.
Keengganan masyarakat menggunakan uang logam memang tidaklah berlebihan, karena uang logam mempunyai nilai lebih rendah serta mempunyai dimensi yang lebih berat dibandingkan uang kertas. Dengan alasan inilah, sebagian masyarakat memperlakukan koin bukan untuk ditraksaksikan kembali, namun ketika memperolehnya, langsung disimpan di celengan atau bahkan diletakkan di sembarang tempat. Fenomena keengganan masyarakat menggunakan uang logam terkonfirmasi dengan data peredaran uang Rupiah logam di BI. Dalam satu dasawarsa terakhir, BI telah mengeluarkan koin sekitar Rp 6 triliun, dan yang kembali ke BI hanya Rp 900 miliar atau 16% saja. Perkembangan terakhir juga menunjukkan tren kembalinya uang logam ke BI semakin menurun.
Gerakan Peduli Koin
Melihat data dan fakta tersebut, pada pertengahan 2016 lalu BI bersama perbankan meluncurkan Gerakan Peduli Koin yang diselenggarakan di lapangan Monas Jakarta. Program ini memiliki maksud dan tujuan di antaranya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam penggunaan koin sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender) di wilayah NKRI, meningkatkan efektivitas koin sebagai alat pengembalian dalam kegiatan transaksi perdagangan, serta dalam rangka menyediakan fasilitas kepada masyarakat yang akan melakukan penukaran koin. Selain di Jakarta, Gerakan Peduli Koin juga telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, diantaranya di Bali, Medan, dan Ambon.
Masyarakat dapat melakukan penukaran uang Rupiah logam di seluruh Kantor Perwakilan BI yang berada di seluruh provinsi di Indonesia. Selain di kantor, BI juga memberikan layanan penukaran kepada masyarakat melalui kegiatan kas keliling yang umumnya dilakukan di pasar atau tempat keramaian di beberapa daerah yang tersebar di Indonesia, sesuai dengan jadwal dan lokasi yang telah ditetapkan oleh BI.
Bagi BI dan bank sentral di negara lainnya, alasan uang receh terbuat dari bahan logam atau koin adalah untuk efisiensi. Hal ini mengingat logam memiliki waktu edar yang lebih awet dibandingkan kertas yang cenderung cepat lusuh dan rusak. Dengan usia edar yang lebih tinggi, diharapkan koin dapat diresirkulasi (diedarkan kembali) sehingga dapat menghemat pengeluaran negara dalam kegiatan pengelolaan uang Rupiah.
Sebagai warga negara Indonesia, marilah kita gunakan uang logam (koin) Rupiah dengan bijak. Uang koin sangat berarti sekali, meskipun nilainya kecil, tapi tanpa uang koin seratus atau dua ratus rupiah, takada yang namanya seribu, seratus ribu, bahkan satu juta rupiah. Selain itu, uang Rupiah baik uang kertas maupun logam, merupakan salah satu simbol kedaulatan negara Indonesia.
Momen peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI yang kita rayakan pada 17 Agustus 2017, diharapkan dapat meningkatkan rasa cinta dan bangga kita terhadap uang Rupiah sebagai simbol kedaulatan NKRI. Kalau bukan bangsa Indonesia yang mencintai dan menghargai uang Rupiah, maka siapa lagi yang bisa diharapkan.


Teuku Munandar, Asisten Direktur/Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh. Email: teuku_m@bi.go.id

Jumat, 11 Agustus 2017

2 Pengurus GenBI Aceh Ikut The Youth Conference Se-Aceh

Sumber : Zulfan Mustika

2 Pengurus GenBI Aceh Ikut  The Youth Conference Se-Aceh

GenBI Aceh.com-Banda Aceh.  Demi membangun konsolidasi pemuda untuk membangun berbagai perubahan positif di komunitasnya, di daerahnya maupun dalam kehidupan sosial secara umum, dengan pengetahuannya dan sikap kepeduliannya pada sesama manusia dan juga alam sekitar hidupnya, Generasi Baru Indonesia  yang tergabung dalam FKK mendelegasikan dua pengurus GenBI untuk mengikuti The Youth Conference Se-Aceh, Kamis, 10/08/2017.

Kegiatan The Youth Conference merupakan kegiatan yang di gagas oleh kolaborasi bersama Solidaritas Perempuan Aceh, Kontras Aceh, PKBI dan kelompok muda di Aceh yang diadakan di Gedung SMK Lhong Raya Aceh Besar.
Ketua GenBI Aceh memberikan arahan kepada kedua pengurus GenBI Aceh Duratun Nisa dan Suriri Hiayati yang di delegasikan untuk mengikuti kegiatan The Youth Conference agar benar-benar mengikuti kegiatan tersebut dan kemudian hasil positif yang didapatkan dalam grub discaition mampu membawa perubahan positif dalam pergerakan anggota GenBI kedepannya.

Nanda melanjutkan, Generasi muda tidak salah menjiplak ide kreatif  dari forum manapun demi perubahan generasi muda kearah yang lebih baik, malah ini menjadi hal positif ketika ide positif yang digagas oleh sebuah Forum bisa di adopsi oleh komunitas-komunitas lainnya.

Zulfan Mustika selaku Seketaris FKK mengatakan, kegiatan yang bersifat focus grub discaition seharusnya dibuat se-sering mungkin, karena dengan adanya diskusi positif yang digagas oleh generasi muda Aceh dengan tujuan memetakan masalah yang terjadi dan mencari solusi bersama ini merukan hal yang positif.

Suriri selaku salah satu peserta delegasi GenBI Aceh dari FKK mengatakan youth conference merupakaan kegiatan yang sangat luar biasa, selama tiga hari pelatihan cukup banyak pengetahuan yang didapatkan yang pastinya ilmu yang didapatkan dalam pelatihan tersebut harus disharing ke anggota FKK dan Anggota GenBI Aceh, dengan harapan agar hasil diskusi tersebut mampu di buktikan dengan pergerakan dan membuahkan hasil.



Selasa, 23 Mei 2017

Ini Cara Mudah Mengenali Uang Rupiah

Untuk mempermudah mengenali keaslian Uang Rupiah, berikut kami sampaikan infografis Ciri Keaslian Uang Rupiah (3 D CIKUR), sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengenali Uang Rupiah asli dari Unsur Pengaman yang terdapat pada Uang Rupiah tersebut. Infografis ini juga telah dipublikasikan di intranet BLINK pada Kantor DKom > Dokumen Satker > Infografis serta di website Bank Indonesia pada menu Layanan Informasi Publik > BI Grafis .



Demikian disampaikan.
DEPARTEMEN KOMUNIKASI
Departemen Komunikasi menerima saran, masukan, atau usulan, terkait dengan komunikasi internal Bank Indonesia. Saran dapat disampaikan ke Divisi Perencanaan, Pengendalian, dan Relasi Internal.

Kamis, 13 April 2017

Bilyet Giro Sebagai Alat Pembayaran Utang : Berutang Secara Cerdas, Mungkinkah?


Oleh :Sani Maghfirah 
Anggota GenBI Aceh
Bilyet Giro Sebagai Alat Pembayaran Utang :
Berutang Secara Cerdas, Mungkinkah?

Utang itu seperti ular, semakin lama lilitannya semakin kuat. Harus segera dilepaskan jika tidak ingin tercekik dan mati. Begitu perumpamaannya. Parahnya setelah mati pun, si utang masih saja mencekik keluarga dan kerabat korbannya. Tidak hanya sampai disitu, utang itu juga memberatkan kedua belah pihak baik si pemberi piutang dan penerima utang.
Contohnya, seorang pemuda yang ingin segera mengakhiri masa penganggurannya. Sehingga ia pun memutuskan untuk berdagang. Hanya saja ia terlalu miskin dan tidak memiliki modal apapun. Setelah dipikir-pikir mungkin ia bisa menjual beras dengan meminjam beras dari distributor nanti ketika berasnya telah habis terjual barulah ia akan membayar kepada si distributor. Singkat cerita, barang dagangannya laku semua. Tetapi selama penjualan ia tidak menghitung dan mengalokasikan uangnya secara baik dan cenderung menghabiskan uang yang didapat untuk keperluan sehari-hari tanpa adanya pembukuan yang jelas. Sehingga, ketika tiba waktu jatuh tempo pembayaran kepada si distributor, ia tidak mampu membayar. Ketika si distributor datang untuk menagih uang si pedagang berusaha bernegosiasi serta meminta diberikan pasokan beras lagi dan berjanji akan membayar pada waktu berikutnya. Namun, sayangnya hal tersebut kembali terulang lagi dan lagi. Sehingga si pedagang bukannya mendapat laba malah terlilit utang.
Memang telah menjadi sifat alami manusia yang suka menunda, hal tersebut menyebabkan krisis kepercayaan diantara sesama pedagang maupun diantara pedagang dan distributor. Ada ketakutan yang dihadapi oleh para distributor pada saat mereka menyalurkan barang dagangan. Ketakutan bahwa si pedagang tidak akan membayar tepat pada waktunya. Sebab, perkataan janji-janji tidaklah memiliki kekuatan hukum.
Tidak dinafikan dalam Islam berutang tidaklah dilarang bagi mereka yang memerlukan dan berhajat kepadanya demikian pula di dalam dunia bisnis, utang piutang merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari namun, perlu diperhatikan utang yang telah berlilit-lilit dapat menimbulkan banyak mudharat. Lilitan utang ini dapat dihindari bila kita bersikap tegas dan bertanggung jawab dalam menyikapi utang. Tapi tidak dapat dipungkiri bersikap tegas dan bertanggung jawab tidaklah mudah butuh sedikit tekanan untuk melakukannya. Jika kita mau mengulurkan sedikit waktu kita untuk menyimak lebih dalam kinerja Bank Indonesia. Sebenarnya Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai macam jenis instrument pembayaran non tunai. Salah satunya adalah Bilyet Giro (BG). BG adalah salah satu metode pencairan uang dan pembayaran yang berlaku pada rekening giro. Jika dilihat lebih dalam, BG ini dapat menjadi alternatif pedagang untuk lebih pintar dalam menjalankan transaksi bisnisnya. Utang piutang menjadi tidak terlalu berbahaya. Sebab, BG memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Sehingga menjadikan pihak yang berutang lebih bertanggjung jawab dan pihak yang mengutangi lebih merasa aman sebab adanya jaminan yang telah diberikan.
Pembayaran menggunakan BG ini sebenarnya sangat mudah dan aman, yang perlu dilakukan hanyalah membuat tabungan giro dan membeli slot BG. Selanjutnya, pedagang dapat menyerahkan BG tersebut kepada distributor dimana distributor dapat mencairkan uangnya di Bank sesuai dengan tanggal yang tertera pada BG. Tugas si pedagang adalah menyetor uang ke bank sebelum jatuh Tempo. Hal ini tentu akan membuat pedagang lebih disiplin dalam menyetor uang. jika ia terlambat menyetor uang maka akan ada peringatan yang diterimanya. Apabila si pedagang terlambat membayar sampai 3 kali maka namanya akan masuk ke dalam daftar hitam Nasional (DHN) dan tidak dapat menggunakan BG lagi.
Sayangnya, di Aceh khususnya Banda Aceh sendiri minat para pedagang terhadap giro masih sangat rendah. Secara statistikm presentase penarikan BG kosong masih relatif kecil di indonesia. Padahal Hanya sebagian kecil dari pedagang pro yang telah berkecimpung dengan BG. Mungkin ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para pedagang itu sendiri mengenai BG. Dimana kebanyakan masyarakat awam masih menganggap berurusan dengan bank adalah perkara yang rumit. Padahal pembayaran dengan BG ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pembayaran secara cash. Dimana pembayaran secara cash lebih berbahaya dengan ancaman terjadinya perampokan, kebakaran, terlalu ribet dan lain sebagainya. Pembayaran menggunakan BG bagi para pedagang juga dapat membentuk karakter yang lebih baik seperti menjadikan pedagang lebih bertanggung jawab dan dapat mengalokasikan keuangan secara lebih efektif dan efisien. Karena memang pada dasarnya orang akan berkerja lebih giat untuk memenuhi kewajiban yang terikat dengan hukum.
Oleh karena itu, alangkah indahnya jika kita lebih membuka mata terhadap perkembangan positif yang dihidangkan oleh jaman dengan segala kemudahan-kemudahan teknologi terkini dan tidak malas untuk belajar dan memahami hal-hal baru disekitar kita.

Sani Maghfirah (UIN Ar-raniry)

Rabu, 12 April 2017

“Yasinan Bersama”, Metode Team Building Ala GenBI Provinsi Aceh



“Yasinan  Bersama”,  Metode Team Building Ala GenBI Provinsi Aceh
Kerja sama yang baik adalah sebuah kunci kesuksesan dalam sebuah organisasi. Hal itu pula yang dicetuskan oleh Henry Ford seorang industrialis terkenal dan pendiri dari perusahaan Ford Motor. Melalui kata-kata bijaknya sang founder berkata “Coming together is a beginning. Keeping together is progress. Working   together   is   success”. Namun,
kerja sama yang baik tidak akan tumbuh jika tiap individu di dalam organisasi tersebut tidak saling mengenal dan akrab. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebersamaan dan keakraban yakni dengan melakukan kegiatan Team Bulding.
Tiap-tiap organisasi memiliki ide team bulding-nya masing-masing. Ada  yang berpikir bahwa dengan melakukan kegiatan arung jeram, olah raga atau karaoke bersama dapat meningkatkan kebersamaan. Dalam hal ini tidak ada kegiatan yang mutlak paling bermanfaat dalam membangun kebersamaan, selagi merupakan kegiatan yang  positif. Namun, Komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Provinsi Aceh memiliki “caranya” sendiri untuk meningkatkan kebersamaan, yaitu dengan melakukan kegiatan “Yasinan Bersama” di Sekretariat Komunitas di Taman Sari Banda Aceh.

Kegiatan Yasinan Bersama tersebut rutin dilakukan setiap malam Jum’at dan dilanjutkan dengan sharing dari GenBI Senior kepada adik-adiknya. GenBI merupakan komunitas yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas. Sehingga dengan dilakukan kegiatan yasinan dan sharing bersama, moment tersebut dapat dimanfaatkan untuk saling bertemu dan bercengkrama.
Teuku Nori Nanda selaku ketua GenBI Prov.Aceh periode 2016/2017 menggagas kegiatan ini untuk meningkatkan komunikasi antar anggota GenBI, “Komunikasi dan kerjasama dalam tim adalah hal yang penting untuk membuat sebuah perubahan, dengan adanya temuramah seperti ini kami harapkan kekompakan dan kekeluargaan dalam komunitas ini akan tetap terjaga” pungkasnya.
Salah seorang GenBI dari Universitas Syiah Kuala yang pernah mengikuti delegasi Leadership Camp II 2016 yaitu M.Nahyan Zulfikar membagikan cerita haru kepada junior- juniornya, “Generasi terdahulu menitipkan pesan kepada generasi muda, belajarlah dimanapun kamu berada tinggalkan jejak sebanyak yang kamu bisa karena sesungguhnya ilmu yang kamu dapatkan hari ini lebih jauh bermanfaat apabila kamu ajarkan kepada generasi kamu setelahnya, pungkas Nahyan. Kegiatan ini pun memberikan dampak positif dengan diskusi-diskusi yang menarik sehingga kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin setiap malam jum’at.


Selain melakukan pertemuan bersama, GenBI Provinsi Aceh juga menyelenggarakan kegiatan talkshow di Radio Komunitas Aceh Assalam 107,9 FM. Dalam talkhsow tersebut GenBI Aceh menceritakan kepada publik peran dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di tengah masyarakat, serta berterima kasih kepada Bank Indonesia yang telah mendukung GenBI hingga berkembang seperti sekarang.

Salah Satu Upaya Dari 1001 Cara Menuju Aceh Sejahtera Oleh Bank Indonesia


Oleh : Farida Purnama
Anggota GenBI Aceh
Negeriku negeri idaman yang sangat didamba-damba dan dibanggakan, dambaan dan kebanggaan siapa?? Ya, Dambaan kamu, Aku, Kita semua, masyarakat Aceh lah pastinya!! Karna yang lain juga pasti membanggakan tanah kelahirannya sendiri. Kalian bangga tidak sebagai orang Aceh?? Aku tau jawaban kalian semua!! Pasti dengan ekspresi semangat kalian berkata “aku bangga sebagai orang Aceh dan bisa tinggal di negeri ini” begitu bukan,,?? Namun tidak begitu dengan yang kurasakan, aku tidak bangga sebagai orang Aceh!! tapi bersyukur atas anugrah Allah yang telah menciptakan Aceh untuk kita semua.
Ya memang sudah semestinya untuk bersyukur, sebagai bukti, pejamkan matamu lalu terawanglah dalam bayanganmu, dimana ada orang-orang miskin yang bisa tidur diatas limpahan emas selain Aceh, dimana ada orang yang susah yang hidup berdampingan dengan triliunan venus penghasil getah pendatang kekayaanselain Aceh, dimana ada orang yang masih kelaparan ditengah-tengah bahan pangan melimpah diatas tanah yang subur. Kekurangan protein karna jarang mengkonsumsi ikan, padahal Aceh salah satu penghasil Tuna terbaik dunia. Aceh punya nilam yang bisa menembus mancanegara, Aceh punya sejarah dan budaya yang sangat kuat, unik dan menarik yang dapat dikenalkan kepada dunia, Aceh punya panorama Alam yang luarbiasa dengan keindahan tepi pantai, kepulauan, pegunungan serta telaga raksasa yaitu danau Laut Tawar dengan ikan depiknya. Serta yang telah diakui dunia yaitu Kopi Arabika Gayo, dan masih banyak lagi yang tidak akan ada habisnya jika disebutkan satu persatu.
Nah, kurang apalagi ??? memang tidak ada kurangnya, karna semua tercipta sempurna!!. Karna terlalu sempurna semua pembaca terlena dan terhanyut membayangkannya. Rasanya cukup sudah pengahayatan ini, saatnya kita harus bangun dan keluar dari zona aman sekarang juaga, karna kesempurnaan ini tidak akan dapat mensejahterakan kita semua jika tanpa ada usaha untuk pengelolaan yang efektif dan efisien. Mau jadi apa negeri ini???, mau seperti apa generasi kelak??? Apa yang akan kita tinggalkan untuk mereka anak cucu kita kelak??? Ingat leluhur kita telah mewariskan kemerdekaan kepada kita semua!! Kita, apa yang telah kita lakukan demi generasi ini?? Apa?? .
Kita cerdas, punya politik yang bagus, spritual yang tidak diragukan lagi, ya kata mereka yang tidak tinggal di Aceh. Lalu kenapa kita masih miskin, masih melarat, masih banyak yang luntang-lantung, seolah-olah kesempurnaan Aceh hanya sampul belaka. Ini semua terjadi karna potensi SDM yang sangat lemah. Ada SDM yang berintelektual tinggi tidak punya kearifan spitual sehinga ada banyak tikus kantor dimana-mana. Ada yang beretika mulia namun tidak berilmu sehingga tidak dapat mengelola dengan baik dan benar. Ada yang punya keduanya namun jarang yang menetap untuk membangun negeri ini, kebanyakan memilih tinggal diluar daerah, yang paling parah adalah yang tidak punya kesadaran bukan mengelolala dengan baik malah merusak alam. Hal ini adalah beberapa penyebab dari sekian banyak penyebab yang membuat Aceh slalu kecolongan. Seolah-olah “ada maling yang masuk kerumah namun pemiliknya berdiam saja dan berkata ambil lah sesukamu malinggg...” haha secara kasat mata begitulah keadaan Aceh saat ini. Gara-gara tidak dapat bersaing kita ngannggur, setelah nganggur tidak punya pendapatan, kemuadian kelaparan apalagi mengecam dunia pendidikan!!! terus dapat ilmu darimana coba???untuk dapat mengelola negeri ini.
Namun tidak boleh pesimis, harus slalu optimis karena itu semua masih dapat diselesaikan dengan 1001 cara, tinggal kitanya mau tidak merubah itu semua. Banyak sudah beasiswa yang dikeluarkan pemerintah baik instansi-instasi lainnya. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian lebih tepatnya pemerataan ekonomi melalui program pencerdasan generasi indonesia pada umumnya dan Aceh yang terkhusus, dalam bentuk pemberian bantuan dibidang pendidikan. Diantaranya adalah Bank Indonesia.
Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia dan merupakan badan hukum yang memiliki kewenangan untuk melakukaan perbuatan hukum. Bank Indonesia memiliki tujuan yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah dibidang perekonomian. BI memiliki kedudukan sebagai lembaga negara Independen yang berada diluar pemerintahan. Walaupun kedudukannya diluar pemerintahan, BI tetap punya hubungan kerja serta koordinasi yang baik  dengan lembaga-lembaga pemerintahan. Bank Indonesia juga memiliki visi yaitu menjadi lenmbaga Bank Sentral yang kredibel atau dapat dipercaya.
Jika dilihat sekilas, sebenarnya Bank Indonesia tidak berkewajiban secara signifikan dalam mencetak SDM yang berpotensial untuk pembangunan Aceh. Meski demikian mereka tetap berkontribusi dalam mencerdaskan generasi Indonesia. Tidak terhenti hanya untuk memberi besiswa saja, Bank Indonesia juga membentuk dan membina beberapa komunitas. Komunitas ini sangat bagus untuk membentuk SDM yang berkelas. Disini para generasi dapat belajar untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, karna banyak pelatihan-pelatihan yang dapat merubah karakter generasi menjadi lebih baik. Seperti pelatihan public speaking dan menulis, Bank Indonesia juga sering mengikutsertakan komunitas ini dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Hal ini sangat berdampak positif, karna dapat terjun langsung dan merasakan sedikit banyaknya bagaimana dunia kerja yang akan dihadapi kelak. Banyak kegitan yang digalakkan disini, bakti sosial dan kegiatan lainnya. Dalam artian Bank Indonesia membuka jalan selebar-lebarnya bagi generasi yang mau menjadi agent of change “agen perubahan” Aceh untuk belajar baik secara teori maupun praktik bersama mereka.
Secara tidak langsung Bank Indonesia telah memfasilitasi wadah dan sarana untuk negara dalam menciptakan SDM yang profesional sehingga mengurangi pengangguran dan mencapai pemerataan perekonomian demi kesempurnan dan kemakmuran Aceh. Bukan kemakmuran sebagian orang namun kemakmuran seluruh masyarakat. Adapun wadah atau komunitas tersebut salah satunya adalah GenBI (Generasi Baru Indonesia). Sebuah kontribusi yang tampak sederhana yang insyaAllah akan berdampak luarbiasa.Aku merasa Bank Indonesia punya maksut tersirat bukan tersurat dalam upaya pemberian beasiswa dan pembentukan komunitas ini. Yaitu mengajak kita semua untuk bergabung bersama dalam membenahi negeri ini menjadi negeri yang di idamkan dunia dengan perubahan yang digalakkan Generasi Baru Indonesia. I’m coming Aceh Sejahtera.

Nama               : Farida Purnama
Universitas      : Islam Negeri Arraniry
Fakultas           : Ekonomi dan Bisnis Islam
Jurusan            : Ekonomi Syariah
Angkatan        : 2014

GenBI             : 2016